JAYAPURA — Menjelang tanggal 30 September, seruan untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) disuarakan oleh tokoh agama di Kota Jayapura, Provinsi Papua. Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh rencana aksi unjuk rasa.
Imbauan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Majelis Pekerja Daerah (MPD) Sinode Gereja Bethany Indonesia Provinsi Papua, Pdt. Ronaldy R. Waromi, S.Th., di kawasan Dok II Bawah, Kelurahan Mandala, Distrik Jayapura Utara, Selasa (29/9/2026).
Menyikapi rencana unjuk rasa yang diinisiasi oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB) di lima wilayah keuskupan di Tanah Papua pada Rabu, 30 September 2026. Aksi tersebut direncanakan membawa isu penolakan terhadap narasi historis Rome Agreement 1962.
Pdt. Ronaldy Waromi mengimbau seluruh elemen masyarakat—mulai dari kalangan pemuda, mahasiswa, hingga tokoh adat dan agama—untuk menahan diri dan tidak ikut serta dalam mobilisasi massa tersebut.
"Menyikapi situasi dan dinamika di Tanah Papua, khususnya Kota Jayapura, saya mengimbau kepada seluruh pemuda, mahasiswa, tokoh adat, tokoh agama, dan seluruh masyarakat untuk tidak terprovokasi maupun terikut dalam aksi demo yang direncanakan pada 30 September," ujar Pdt. Ronaldy dalam pesan resminya, Selasa (29/9/2026).
Ia menekankan bahwa stabilitas keamanan sangat penting bagi masa depan dan keselamatan warga. Menurutnya, keterlibatan dalam aksi-aksi yang berisiko dapat merugikan individu, keluarga, hingga merusak ketenteraman lingkungan sekitar.
"Jangan sampai kita terjebak dalam situasi yang berujung merugikan diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat hingga mengganggu Kamtibmas. Saya mengajak kita semua menjaga kedamaian di Tanah Papua, khususnya Kota Jayapura, demi terciptanya Papua yang damai dan sejahtera," pungkasnya.
Penyampaian imbauan damai oleh tokoh keagamaan ini dinilai sebagai langkah persuasif berbasis otoritas moral, guna mengedepankan dialog serta mencegah potensi gesekan sosial di tengah masyarakat menjelang 30 September.

