Perluasan infrastruktur fiber optik dan kabel bawah laut menjadi langkah penting untuk memperkuat konektivitas internet berkecepatan tinggi dari Jawa hingga Papua. PT Infra Fiber Teknologi (IFT) menyiapkan pengembangan sejumlah koridor transmisi digital dengan kapasitas besar dan latensi rendah, termasuk rute Manado-Sorong yang dapat menghubungkan wilayah Indonesia bagian timur melalui jaringan kabel bawah laut.
Upaya ini diharapkan mendukung kebutuhan layanan digital, pusat data, serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan di berbagai daerah.
Kebutuhan Infrastruktur Digital Terus Bertumbuh
President Director & Chief Executive Officer PT Infra Fiber Teknologi Hendri Mulya Syam mengatakan, perkembangan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan mendorong peningkatan kebutuhan terhadap infrastruktur digital. Teknologi tersebut membutuhkan jaringan dengan kapasitas tinggi, latensi rendah, dan keandalan yang mampu menopang berbagai infrastruktur digital lainnya.
Kondisi ini membuat pembangunan jaringan fiber optik tidak hanya menjadi kebutuhan sektor telekomunikasi, tetapi juga bagian dari fondasi transformasi ekonomi dan layanan berbasis teknologi.
Berdasarkan informasi yang disadur dari CNBC Indonesia, IFT melihat Indonesia memiliki prospek bisnis fiber optik yang tetap kuat meskipun terdapat sejumlah tantangan. Salah satunya adalah volatilitas nilai tukar yang dapat memengaruhi biaya pembangunan infrastruktur, terutama karena proyek jaringan membutuhkan pasokan bahan baku dan peralatan dalam jumlah besar.
Tantangan lain terdapat pada pembangunan kabel bawah laut yang memerlukan waktu panjang, bahkan dapat mencapai dua tahun sebelum mulai beroperasi.
Pengembangan Koridor Jawa dan Indonesia Timur
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, IFT memusatkan pengembangan jaringan fiber optik pada beberapa segmen strategis. Koridor pertama mencakup jalur Jakarta-Batang-Surabaya yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi di Pulau Jawa. Penguatan jalur ini penting untuk meningkatkan kapasitas pertukaran data di kawasan dengan aktivitas industri, bisnis, pemerintahan, dan layanan digital yang tinggi.
Segmen lain mencakup Banjarmasin-Balikpapan-Manado serta jalur Bali-Lombok-Labuan Bajo-Makassar-Kendari-Manado. Rangkaian rute tersebut dirancang untuk memperluas jangkauan konektivitas antarpulau sekaligus memperkuat hubungan digital antara wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia. Dari Manado, jaringan tersebut dapat diteruskan menuju Sorong melalui kabel bawah laut, sehingga membuka jalur konektivitas yang lebih kuat bagi Papua dan kawasan sekitarnya.
Jaringan Bawah Laut Mendukung Akses Digital Papua
Perluasan transmisi melalui kabel bawah laut memungkinkan pengiriman data dengan kecepatan yang lebih baik dan latensi lebih rendah. Bagi wilayah kepulauan seperti Papua, keberadaan jaringan semacam ini memiliki arti penting karena konektivitas tidak hanya bergantung pada jaringan darat yang menghadapi tantangan geografis. Jalur Manado-Sorong menjadi salah satu bagian dari rencana yang dapat memperkuat integrasi infrastruktur digital antarpulau dan mendukung peningkatan kualitas akses internet.
Saat ini, RAIA Grid, platform infrastruktur digital berbasis kecerdasan buatan yang diluncurkan IFT, memiliki jaringan data darat sepanjang 80.000 kilometer dan kabel bawah laut sepanjang 6.500 kilometer. Jaringan tersebut masih akan dikembangkan untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital nasional.
Dengan kapasitas transmisi yang semakin luas, daerah-daerah di luar pusat ekonomi utama berpeluang memperoleh dukungan konektivitas yang lebih andal bagi pendidikan, layanan publik, kegiatan usaha, dan pengembangan ekonomi digital.
Investasi Infrastruktur untuk Kemandirian Digital
Pengembangan jaringan fiber optik dan kabel bawah laut membutuhkan perencanaan jangka panjang, investasi besar, serta koordinasi lintas wilayah. Waktu pembangunan yang panjang menuntut kepastian pasokan, kesiapan teknis, dan pengelolaan risiko yang matang agar jaringan dapat beroperasi sesuai target.
Di sisi lain, perluasan infrastruktur ini menciptakan dasar yang lebih kuat bagi pemerataan akses digital dan peningkatan daya saing daerah, termasuk Papua, dalam memanfaatkan layanan berbasis data dan teknologi kecerdasan buatan.


